Metro Ethernet

METODE PEMILIHAN PRODUK METRO ETHERNET
KRISTANTA RIYADI, 23207056

I. Pendahuluan

Layanan Telekomunikasi Abad-21 saat ini sudah berubah. Layanan Telekomunikasi pada awalnya berbasis circuit switch, dan sekarang banyak layanan telekomunikasi yang berbasis packet switch. Suksesnya Internet yang berbasis packet switch membawa dampak yang cukup besar bagi penyediaan layanan oleh operator telekomunikasi. Operator telekomunikasi mulai menyediakan layanan yang berbasis IP dan diramalkan bahwa semua layanan akan berbasis IP.

Untuk menyediakan layanan yang berbasis IP di jaringan telekomunikasi, muncul teknologi IP Multimedia Subsystem atau IMS. Teknologi IMS mendasarkan kepada penyediaan layanan dan tidak mendasarkan kepada fungsi-fungsi jaringan. IMS juga diyakini sebagai sarana untuk menuju “All IP Network”.

Layanan telekomunikasi yang disediakan oleh IMS saat ini terbagi menjadi voice, data dan multimedia. Layanan yang diperkirakan menjadi killer application adalah :

- Presence: sebuah fitur layanan yang menyimpan profil dinamik dari user, dapat diketahui oleh user yang lain dan berfungsi sebagai representasi diri di dunia maya, digunakan untuk saling berbagi informasi dan pengendalian layanan pribadi usernya.

- Messaging: Layanan yang berfungsi untuk mengirimkan pesan / message dari satu user ke user lain.

- Push to talk over Cellular (POC): layanan yang menyediakan layanan suara satu-ke-satu atau satu-ke-banyak.

- Conferencing: layanan bicara yang digunakan dengan tipe konferensi (multiple participant).

- Group Management (data manipulation):Layanan yang menyimpan data informasi spesifik layanan ke operator jaringan IMS. Data dapat berupa apa saja yang diperlukan untuk menjalankan suatu layanan operator. Jadi layanan ini merupakan komplementari dari empat layanan sebelumnya.

Kondisi real di Indonesia pada saat ini menunjukkan bahwa sebagian besar jaringan telekomunikasi belum siap untuk mengadopsi IMS. Faktor kesiapan jaringan yang sebagian besar berbasis circuit switch merupakan suatu kendala utama implementasi IMS. Oleh karena itu diperlukan suatu transisi dari jaringan circuit swicth menjadi packet switch.

Salah satu transisi tersebut adalah di media transport. Transport jaringan telekomunikasi saat ini sebagian besar menggunakan PDH dan SDH. Kandidat transport yang mendasarkan kepada packet switch saat ini adalah metro ethernet.

II. PERMASALAHAN

Metro ethernet sebagai tranport untuk IMS sudah banyak diproduksi oleh vendor-vendor internasional. Setiap produk memiliki spesifikasi umum dan features-features yang membedakan antara satu produk dengan produk lainnya.

Permasalahan yang dipilih dalam studi kasus ini adalah metode pemilihan produk Metro Ethernet yang sesuai dengan kebutuhan operator telekomunikasi dalam rangka migrasi jaringan eksisting menuju jaringan IMS.

III. METODE PEMECAHAN MASALAH

Metode pemilihan produk Metro Ethernet yang sesuai dengan kebutuhan operator telekomunikasi didasarkan kepada :
Aspek Teknologi
Aspek Bisnis
Isu Regulasi Komponen Dalam Negeri

IV. ANALISA MASALAH
IV.1.Aspek TEKNOLOGI
IV.1.A. METRO ETHERNET TRANSPORT

Metro ethernet adalah jaringan ethernet yang mempunyai area cakupan metropolitan. Perangkat Metro ethernet berupa switch atau router yang berada di Layer 2 atau Layer 3.

Gambar 1. Jaringan Metro Ethernet

Pada awalnya ethernet digunakan dalam teknologi akses, dan sekarang dapat digunakan untuk melayani layanan data pada jaringan transport. Fokus utama dari trend teknologi Metro Ethernet adalah pada Carrier Ethernet, yaitu kemampuan jaringan berbasis pada Ethernet dengan pengembangan fitur dan kemampuan setara TDM based.

Gambar 2 Layanan berbasis Metro Ethernet

Metro ethernet dapat dikelompokkan menjadi :

1. Pure Metro Ethernet

2. SDH-based Metro Ethernet

Jaringan transport SDH digunakan untuk melayani ethernet. Trafik kapasitas besar SDH digabungkan dengan potensi trafik yang dimiliki protokol IP. SDH adalah protokol layer fisik (layer 1) sedangkan IP adalah layer network (layer 3). Oleh karena itu dibutuhkan media perantara layer 2 (layer data link) Point-to-Point Protocol (PPP). Proses pemetaan paket IP pada SDH terjadi dalam dua tahap, tahap pertama paket IP dimasukan ke frame PPP, kemudian frame PPP dipetakan pada payload SDH VC-4/SDH_HO (High Order atau n x STM1).

3. MPLS-based Metro ethernet

Ide dasar dari pengembangan MPLS penggunaan “label” untuk mekanisme switching di tingkat IP. Hal ini berbeda dengan jaringan IP yang menggunakan pengalamatan IP sebagai dasar mekanisme switching dan jaringan ATM yang menggunakan Virtual Circuit Identifier sebagai dasar mekanisme switching. Di dalam jaringan yang menggunakan protokol MPLS, paket yang masuk kedalam jaringan MPLS terlebih dahulu diberi “label”. Label yang diberikan disusun dari berbagai variasi kriteria sesuai dengan yang diinginkan oleh Service Provider/pengguna.

Berdasarkan label yang diberikan tersebut maka jaringan yang menggunakan protokol MPLS akan memperlakukan paket tersebut sesuai dengan nilai yang melekat pada label tersebut (high priority, low priority, dan lainnya).

Hingga saat ini belum ada standard MPLS yang berlaku atau yang dapat diacu (bersifat non proprietary), dikarenakan belum diselesaikannya penyusunan beberapa hal penting yang menjadi dasar penyusunan standar oleh organisasi yang berwenang.

Kapasitas maksimal yang dapat disalurkan oleh Metro Ethernet tiap interface-nya adalah 10 Gbps. Sedangkang sistem proteksi (reliabilitas) menggunakan RPR, EAPS, ERP.

Keuntungan menggunakan MPLS-based dibandingkan dengan Pure Internet adalah :

a. Scalability:

Untuk pure metro ethernet maksimum hanya 4,096 VLANs dan MAC address di sharing, sedangkan MPLSVLAN dan MAC Address bersifat local

b. Resiliency : waktu konvergensi di MPLS lebih singkat, hanya 50 msecs

c. Multiprotocol convergence yang dapat menghandle semua trafik

d. End to End OAM

4. Ethernet over DWDM

Ide dasar dari Metro ethernet tipe ini adalah melewatkan ethernet di jaringan transport optik yang menggunakan DWDM.

Isu teknologi yang masih berkembang dari Metro ethernet akses menuju transport adalah :

a. End-to-End QoS

b. Scalability

c. Protection (50 ms, end to end Protection)

d. TDM Support (Seamless dan Circuit Emulation).

e. OAM&P of Ethernet in the metro

IV.1.B. KONFIGURASI METRO ETHERNET

Sistem konfigurasi jaringan Metro ethernet dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2 sistem konfigurasi Metro Ethernet

Secara garis besar, interface Metro Ethernet terbagi dalam dua kelompok, yaitu :
Interface antar jaringan atau Network-Network Interface
Jika jaringan yang dihubungkan adalah provider yang berbeda, maka disebut eksternal NNI atau E-NNI
Jika jaringan yang dihubungkan terdapat di service provider yang sama, maka disebut internal NNI atau I-NNI
Interface jaringan dengan pengguna atau User Network Interface
UNI yang terpasang di jaringan disebut UNI-N
UNI yang terpasang di sisi pelanggan disebut UNI-C

Hubungan antara suatu UNI dengan UNI lainnya dapat digambarkan sebagai suatu ethernet virtual connection dan disebut EVC.

Berdasarkan hubungan UNI, maka tipe layanan metro ethernet terdiri dari :

1. E-Line : menyediakan layanan point-to-point untuk :

a. Ethernet Private Line ( untuk mengantikan TDM private line, PTP, dan layanan non multiplexed, satu EVC untuk satu UNI)

b. Virtual Private Line ( untuk menggantikan Frame Relay atau ATM, banyak EVC untuk satu UNI, Satu koneksi CPE untuk koneksi ke banyak EVC)

c. Ethernet Internet Access,

d. Point-to-Point upper layer services transport (IP-VPNs etc…)

2. E-LAN : menyediakan layanan multipoint-to-multipoint untuk :

a. Multipoint L2 VPNs

b. Transparent LAN Service

c. Multicast networks

Point to multipoint untuk aplikasi broadcast seperti distribusi video, e-learning, corporate training, healthcare, Picture Archiving & Storage Systems (PACS) dll

Metro ethernet menyediakan berdasarkan attribute yang dapat digolongkan sebagai berikut :

1. E-line dan E-LAN menggunakan Committed Information Rate (CIR)

2. E-line dan E-LAN menggunakan Committed Burst Size (CBS)

3. E-line dan E-LAN menggunakan Excess Information Rate (EIR)

4. E-line dan E-LAN menggunakan Excess Burst Size (EBS)

5. E-line mempunyai delay, delay variation dan loss

Metro Ethernet harus dapat terhubung ke jaringan circuit swicth maupun packet switch. Jika terhubung ke circuit switch, maka harus ada Circuit Emulation Service ( CES ). CES bertugas melakukan tunneling trafik TDM agar dapat dilewatkan ke jaringan Metro Ethernet. Proses ini tidak dapat dilihat oleh perangkat TDM nya dan hanya berlaku untuk tipe layanan E- Line.

IV.1.C. IMPLEMENTASI METRO ETHERNET

Gambar 4 Interface Metro ethernet

Dalam Implementasinya, Metro Ethernet harus dapat terhubung ke BRAS, PE Router, IP VPN, DSLAM, MSAN dan perangkat-perangkat berbasis IP lainnya. Oleh karena itu , syarat interface yang diperlukan adalah :
Speed and Connection
Interface elektrik untuk 100 Mit/s dan 1000Mbit/s

1. Tersedianya deteksi secara otomatis untuk kecepatan yang berbeda
Interface Optik 1000 Mbit/s dan 1000 Mbit/s dengan kemampun untuk range
i. short range/ haul (SX) : 100 – 250 m
ii. medium range/ haul(LX) : 10 – 15 km
iii. long range/ haul (ZX) : 40 – 80 km

Mendukung Circuit Emulation Service ( CES ) untuk E1 baik frame mapun un-frame

Layanan Multimedia

Untuk mendukung layanan multimedia, maka Metro Ethernet harus mampu menyediakan multicast, yaitu point to multipoint untuk broadcast menggunakan IGMP. IGMP digunakan untuk mempelajari dan meneruskan trafik. Yang terdiri dari Host traffic sebagai upstream interface dan router interface sebagai downstream interface. Agar lebih optimal, maka broadcast hanya ditujukan kepada receiver atau multicast router yang aktif saja dan hal ini disebut IGMP snooping. IGM snooping berada di perangkat yang menghubungkan IGMP Host dengan IGMP router. IGMP snooping terdiri dari dari dua komponen yaitu komponen kontrol dan komponen forwarding

2. Class of Service

Untuk menjamin trafik yang dibutuhkan oleh pelanggan, maka diperkenalkan Class of Service. Pelanggan dibagi-bagi ke dalam beberapa kelas seperti berikut :

Tabel 1 Class of Service

IV.2. Aspek Bisnis :
IV.2.A. Vendor-vendor Metro Ethernet

Vendor yang mempunyai produk Metro ethernet saat ini sangat banyak dan bermacam-macam. Vendor-vendor tersebut tergabung dalam Metro ethernet forum untuk menyatukan persepsi dalam pembuatant spesifikasi Metro Ethernet .

Vendor-vendor tersebut di antara adalah : Alcatel-Lucent, Ericsson, C-COR, Cisco Systems, Ethos Networks, Extreme Networks, Foundry Networks, Huawei, Nortel Networks, Tellabs, ZTE, Alcatel dan lain-lain.

Gambar 5 Vendor-vendro Metro Ethernet

IV.2.B. Kebutuhan Metro Ethernet

Metro ethernet sebagai transsisi menuju All IP Network sangat dibutuhkan oleh operator operator telekomunikasi di Indonesia. Data kebutuhan internet sepanjang tahun 2007 di daerah Bali menunjukkan kebutuhan yang signifikan.

Data dari salah satu operator telekomunikasi di Indonesia menunjukkan hal seperti berikut :

Tabel 2 Kebutuhan Metro Ethernet di Kawasan Timur Indonesia

Gambar 6 Konfigurasi Kebutuhan Metro ethernet KTI

IV.3. . REGULASI komponen dalam negeri

Melihat tingkat kebutuhan Metro ethernet tinggi dan pemain 100% dari luar negeri, maka isu produk lokal perlu diangkat. Jika Indonesia tidak mempunyai produk sendiri, maka modal Indonesia akan lari ke luar negeri untuk membeli produk Metro ethernet.

Isu komponen dalam negeri merupakan isu yang cukup hangat. Dengan adanya Keputusan Menteri Perindustrian tentang TKDN, maka Industri Dalam Negeri diharapkan menjadi industri yang kuat dan secara makro ekonomi memberi dampak yang positif bagi pembangunan Indonesia.

Aturan hukum tentang TKDN adalah :

1. Pasal 44 Keppres Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah serta dalam rangka pendayagunaan produksi dalam negeri perlu dilakukan pengaturan penggunaan produksi dalam negeri;

2. Keputusan Presiden R.I. Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden R.I. Nomor 70 Tahun 2005;

3. Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor.11/MIND/PER/3/2006 tentang Pedoman Teknis Penggunaan Produksi dalam Negeri pasal 1 ayat 3-6

Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) adalah besarnya komponen dalam negeri pada barang, jasa dan gabungan barang dan jasa.

- Komponen dalam negeri untuk barang adalah penggunaan bahan baku, rancang bangun dan perekayasaan yang mengandung unsur manufaktur, fabrikasi, perakitan, dan penyelesaian akhir pekerjaan yang dilaksanakan di dalam negeri.

- Komponen dalam negeri untuk jasa adalah jasa yang dilakukan di dalam negeri dengan menggunakan tenaga ahli dan perangkat lunak dari dalam negeri.

- Komponen dalam negeri untuk gabungan barang dan jasa adalah penggunaan bahan baku, rancang bangun dan perekayasaan yang mengandung unsur manufaktur, fabrikasi, perakitan, penyelesaian pekerjaan serta jasa yang dilakukan di dalam negeri dengan menggunakan jasa tenaga ahli dan perangkat lunak dari dalam negeri.

- Setiap pengadaan barang/jasa oleh Departemen, Lembaga Non Departemen, Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten/Kota, Badan Hukum Milik Negara (BHMN), Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan anak perusahaannya yang dibiayai dengan dana dalam negeri atau dilakukan dengan pola kerjasama antara pemerintah dengan badan usaha, wajib memaksimalkan penggunaan produksi dalam negeri.

- Kewajiban memaksimalkan penggunaan produksi dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi wajib menggunakan produksi dalam negeri apabila didalam negeri sudah terdapat perusahaan yang memiliki barang/jasa dengan penjumlahan TKDN dan Nilai BMP mencapai minimal 40% (empat puluh persen).

- Apabila didalam negeri sudah terdapat perusahaan yang memiliki barang/jasa dengan penjumlahan TKDN dan Nilai BMP mencapai minimal 40% (empat puluh persen) sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pelaksanaan pengadaan barang/jasa hanya dapat diikuti oleh perusahaan dalam negeri yang memproduksi barang/jasa.

Dari aturan-aturan tersebut di atas maka dapat suatu tabel yang mengatur tentang Tingkat Komponen dalam Negeri sbb :

Tabel 3 TKDN

V. SOLUSI

Berdasarkan paparan di atas, maka pemilihan produk Metro ethernet harus memenuhi :
Kajan Teknis:
Spesifikasi teknis dari Metro ethernet forum
DSL Forum Technical Report TR-101 Migration to Ethernet based DSL Aggregation.
Kajian Bisnis
Timing yang tepat untuk metro ethernet adalah tahun 2007-2008
Regulasi TKDN
Mengadosi kepentingan ekonomi dalam negeri

VI. KESIMPULAN
Metro ethernet merupakan solusi transport untuk jaringan IMS yang memaksimalkan jaringan transport yang sudah ada
keputusan pemilihan produk metro ethernet harus didasarkan kepada kepentingan bisnis dan kepentingan Industri dalam negeri dengan mempertimbangkan kemampuan penguasaan teknologi
Regulasi yang mengatur TKDN untuk produk-produk telekomunikasi harus segera direalisasikan untuk mendorong tumbuhnya industri dalam negeri.

DAFTAR PUSTAKA
Teknologi Jaringan Metro, http://www.ristinet.com ,13 Juli 2006
Metro ethernet spesification, http://www.metroethernetforum.org , 2007
Metro ethernet, http://www.wikipedia.org, 2008
Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor.11/MIND/PER/3/2006 tentang Pedoman Teknis Penggunaan Produksi dalam Negeri

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License